Finally Two Stripes (?)

Finally Two Stripes (?)


Apa sih yang ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri? Di Indonesia, mostly sejak awal pernikahannya mereka pasti menanti datangnya dua garis testpack di pagi hari. Termasuk kami. Enam bulan pertama kami masih belum ambil pusing hingga saya di diagnosis PCOS. Dari stress hingga pasrah, bahkan sampai¬†menduga bahwa testpack itu rusak karena selalu bergaris satu. Pagi itu di bulan Oktober 2015 kami dikejutkan oleh dua garis pada testpack, jelas sekali! Sampai-sampai kami cubit-cubitan ini mimpi atau sungguhan. Dari keterangan pada bungkus testpack menyatakan jika dua garis berarti positive. Yeay I’m pregnant (?)

Satu strip yang dulu selalu bersembunyi akhirnya muncul juga.

Perasaan senang? BANGET¬†(capslock jebol stabilo bocor ūüėÄ ). Tanpa menunda kami langsung bergegas pergi periksa ke dokter kandungan. Kami memilih dr. M yang pada hari itu available. Hasil usg menyatakan masih berupa penebalan rahim dan diminta kembali 2 minggu lagi. Pulang dengan penuh harap 2 minggu lagi kami bisa mendapat kabar gembira. Menunggu waktu 2 minggu kami¬†pakai untuk nge-trip ke malang gratis hadiah dari lomba di kantor (hehehe jangan iri).

Gejala yang saya alami sebelum tes urine menggunakan testpack sama dengan gejala-gejala tamu bulanan, perut dan pinggang sakit bukan main kali ini lebih sakit, selain itu diikuti dengan flek beberapa hari. Kala itu saya pikir memang mau mens tapi tiba-tiba flek berenti namun payudara makin terasa nyeri. Saya beranikan untuk testpack dan sudah menyiapkan diri kalau akan mengeluarkan hasil seperti biasa, yaa biasanya sih garis satu yaa. Ternyata tak disangka tak dikira hasil testpack 2 GARIS JELAS. WOOW!

Setelah 2 minggu, kami kembali ke dokter namun ternyata dr. M sedang cuti sehingga kami mengunjungi dr. N yang available di rumah sakit saat itu. Hasil usg sudah nampak kantong janin. Karena sebelum dinyatakan positif saya sudah absen mens selama 2 bulan jadi dokter berpatokan hanya pada usg saja sehingga dinyatakan kandungan saya berusia 5 minggu.

Namun ternyata ini bukan “akhirnya”, melainkan awal semua perjuangan.

Sepulang dari dokter, dimalam harinya tiba-tiba saya nge-flek lagi. Panik? Pasti. Karena baru pulang dari dokter jadi saya coba untuk bed rest. Kebetulan hari itu hari sabtu jadi saya punya waktu bed rest 2 hari tanpa harus izin kerja. Karena flek tidak muncul lagi saya masuk kantor seperti biasa. 2 hari flek hilang, namun kemudian muncul lagi. Saya makin panik. Kali ini saya bergegas ke dokter mengajak mamah. Dr. M dan dr. N yang sebelumnya kami kunjungi tidak praktek sehingga kami memutuskan mencari dokter siapa saja yang available karena kondisinya urgent. Dokter kali ini adalah dr. Y yang menangani persalinan mama 12 tahun lalu. Dari hasil usg dokter melihat masih berupa kantong dan belum nampak janin (loh kok masih sama minggu lalu). Dokter ini sudah memprediksi kalau saya hamil BO (Blighted Ovum), namun masih ditunggu perkembangannya minggu depan dan saya diberi obat penguat. Selain itu dr. Y menduga adanya toksoplasma ditubuh saya sehingga saya dirujuk untuk melakukan tes lab. Segera kami menuju laboratorium rumah sakit bersangkutan untuk melakukan tes. Hasilnya menunjukkan bahwa virus toksoplasma dan rubella memang pernah menjangkiti tubuh saya, namun tidak membahayakan janin. Saya diberikan obat terapi selama 2 bulan untuk melemahkan virus toksoplasma tersebut.

Setelah kunjungan ke dr. Y flek berhenti. Harapan saya semakin besar janin dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Karena merasa sreg dan cocok dengan dr. M, kami kembali mengunjungi beliau. Kami ceritakan telah ke dokter A B C dan kronologis keluarnya flek. Saya di periksa melalu USG transvaginal, dalam layar monitor memang terlihat kalau kantung janinnya terjadi pendarahan. Untuk hal ini dokter masih positif thinking dan menunggu seminggu lagi dengan harapan janin masih bisa dipertahankan. Kamipun pulang dengan penuh harap.

Seminggu lagi, hari itu hari yang dijanjikan oleh sang dokter, kami pergi ke RS dan mendapat antrian siang hari. Pagi hari sebelum kami berangkat flek itu muncul kembali. Pasrah apapun yang akan terjadi. Kami bergegas ke RS Рantri Рkemudian diperiksa kembali oleh dr. M melalui USG Transvaginal. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kantung janin masih terjadi pendarahan dan bentuknya sudah tidak bagus lagi. Dokter menyimpulkan kalau saya kehamilan saya Blighted Ovum atau sering disingkat hamil BO. Saya tanya penyebabnya apakah dari toksoplasma atau apa, namun dokter yakin bukan karena tokso yang pernah saya alami. Dokter menjelaskan kalau BO ini bisa saja terjadi karena kromosom dari ovum atau sperma yang kurang baik ketika terjadi pembuahan. Dan mereka mengalami seleksi alam, dimana kromosom baik akan dapat bertahan dan berkembang sedangkan yang kurang baik akan gugur. Dokter menawarkan 3 opsi: ditunggu keluar dengan sendirinya, peluruhan dengan obat atau pengeluaran dengan kuretase. Saya memilih pengeluaran dengan menggunakan obat karena sebenarnya saya takut sekali jika harus di kuret. Dokter membebaskan saya kapan siapnya meminum obat peluruh tsb.

Saya memutuskan untuk meminumnya keesokan harinya saja, dimalam harinya kami¬†berbincang sejenak dengan janin kami dalam perut. Kami berbisik “Umi-Abi ikhlas Allah lebih sayang kamu, bismillah besok umi minum obat peluruhnya ya nak.” Walau tidak mampu bertahan namun janin kecil tersebut tetap selalu ada dihati.

10 bulan kami menunggu tapi ternyata Allah menganggap belum saatnya. Sedih pasti, namun kita harus selalu berprasangka baik pada Allah. Pelajaran yang bisa saya ambil dari sini, Allah menunjukkan kalau saya mampu untuk hamil secara alami.

Advertisements
Beating PCOS

Beating PCOS


Mengalami proses panjang sampai akhirnya memutuskan untuk menuliskan our-side-story ini. Awalnya kami akan simpan ini rapat-rapat. Bahkan pada sahabat-sahabat kamipun tidak ingin menceritakannya. Cukup keluarga inti saja. Namun seiring berjalannya waktu kami menemukan beberapa tulisan yang sangat menginspirasi kami. Mereka menunjukkan bahwa menceritakan “roda bawah”¬†kehidupan kita bukan berarti mengumbar aib sendiri tapi justru bisa memberikan motivasi¬†untuk mereka yang bernasib sama dengan kita, memberikan informasi yang bermanfaat, atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk tetap bertahan dan tersenyum walau kita berada di posisi terbawah hidup kita.

Here is our story…

Baru setelah menikah, berita-berita marak saat ini seperti¬†kasus aborsi remaja, bayi dibuang karena hamil diluar nikah, sampai berita perempuan dihamili ayah kandungnya sendiri, membuat saya mikir “kok mereka gampang banget yaa?”¬†Ibaratnya kesenggol dikit aja tekdung. Istilah yang sering orang sebut sebagai “tokcer” pada pengantin baru tidak berlaku untuk kami.

Bikin anak ternyata tidak semudah yang kami bayangkan

Sejak awal tidak pernah berniat menunda memiliki anak. Tapi kami belum terlalu ambil pusing ketika testpack masih selalu bergaris satu sampai di usia pernikahan kami menginjak 6 bulan. Kata orang tua kami nikmati saja dulu pacaran, seru-seruan berdua sebelom punya buntut. Tapi dorongan pertanyaan yang mulanya masih bisa dibercandain tapi lama kelamaan menjadi annoying juga itu justru dari orang – orang sekitar diluar keluarga kami dan tidak terlalu dekat pula dengan kami. Makin hari pertanyaan beragam dan berkembang bagai bunga bangkai, ups, sampai-sampai bisa buat saya semalaman menangis seperti ketika mereka tau saya sedang menstruasi dengan nada yang mungkin hanya mereka anggap joke belaka¬†bercanda “Yah gagal lagi deh bulan ini”. Sedih lho bok digituin. Kadang mikir “What the hell with them? Nyokap bokap bapak ibu mertua gue aja gak segitunya. Lah lu siapa?” ¬†Oke tulisan ini bukan untuk nyinyirin mereka, kami anggap cobaan saja. Cobaan yang harus dianggap lelucon biar gak stress.

RSI Pondok Kopi

Saya ingat betul bulan Juni 2015 tepatnya kami akhirnya mengunjungi dokter obsgyn. Kami cari rumah sakit terdekat dari tempat tinggal kami. Niat awal bukan karena ingin promil, tetapi karena keluhan perut bagian bawah saya nyeri, badan saya lemas dan sedikit pusing. Dari informasi sana-sini yang saya baca berharap ciri-ciri tersebut mengindikasi kalau saya hamil. Tapi ternyata takdir berkata lain, di mesin usg terlihat telur saya banyak namun tidak terlalu besar sehingga tidak memungkinkan untuk dibuahi. Bahasa ngetrendnya saat ini adalah PCOS (Polycystic Ovary Syndrome). Ya saya memiliki irregullary period. Menstruasi datang tidak menentu, kadang tepat 30 hari kadang pernah sampai 70 hari baru datang.

Saya tidak pernah menceritakan masalah siklus menstruasi amburadul ini pada siapapun kecuali mama. Ya, menstruasi yang gak bisa dipastikan datangnya seperti jelangkung ini berlangsung sejak akhir SMP. Seingat saya, ketika pertama kali menstruasi masih tepat jadwalnya, namun lama-kelamaan makin berantakan. Kata mama saya wajar karena masih dibawah umur 20 tahun jadi yaa dari dulu saya santai saja. Namun lama-kelamaan menjadi tidak nyaman karena saya pernah mengalami pendarahan menstruasi selama sebulan, deras, hingga lemas. Sempat memeriksakan ke obsgyn juga karena keluhan pendarahan yang berlangsung lama ini, namun sama seperti yang dikatakan mama saya dokter bilang masih wajar karena umur masih dibawah 20 tahun. Setelah menikah, siklus saya menjadi semakin teratur dari sebelumnya. Siklus 30-40 hari itu bagi saya sudah termasuk teratur lhoo haha.

Dari pemeriksaan di RS ini dokter tidak sampai hati belum bisa mengatakan kalau saya infertil karena usia pernikahan kami masih kurang dari setahun, lagi pula infertil tidak dapat hanya ditentukan dari pemeriksaan usg saja namun harus melakukan test hormon dll. Dokter juga menyuruh saya untuk tes gula dan kembali 2 minggu lagi. Tapi saya bandel, saya gak melakukan tes gula tsb dan tidak kembali lagi sampai sekarang. Kami bersyukur ketahuan sesuatu yang tidak beres lebih dini sebelum kami memulai program.

Pasca Konsultasi

Kenapa gue?

Gue salah apa?

Ya pertanyaan itu terus berputar-putar dikepala. Kalau lagi diem selalu muncul pertanyaan itu, berujung murung kemudian setres, lalu nangis.

Sepulangnya dari rumah sakit hingga beberapa hari kedepan saya nangis dan stress menghadapi kenyataan diagnosis PCOS tersebut. Mulai mencari informasi kesana kemari di internet, hasilnya apa? Worried meningkat, stress meningkat karena semakin takut. Dari takut infertil lah, susah punya anak lah sampe penyakit lain yang mungkin muncul. Semakin dibaca, PCOS ini bukan hanya permasalahan mens tidak teratur saja, justru mens tidak teratur itu efek dari keseluruhan sistem kerja tubuh kita. Semakin dibaca, ternyata semakin memusingkan karena makin ditemukan berkaitan dengan masalah ini dan itu. Maaf tidak menyertakan link referensi karena menemukannya dari berbagai sumber dan waktunya pun berbeda-beda. Misal suatu case X  ternyata juga bisa membuat seseorang memiliki PCOS, dan itu baru saya temukan berbulan-bulan kemuadian. Jadi saran dari saya banyak-banyak baca yaa. Sebenarnya suami sudah me-warning kalau jangan terlalu banyak googling kesana kemari karena semakin banyak info yang kita tau pasti makin pusing dan stress.

Saya dipertemukan dengan beberapa teman senasib seperjuangan. Alhamdulilah saya lebih baik dan merasa tidak sendiri. Kami berbagi info dari pengobatan herbal, makanan yang mempengaruhi kesuburan, dan olahraga. Dibalik  punya teman berbagi, terselip sedih juga, kok yaa makin banyak perempuan dengan kasus PCOS ini. Kenapaa oh kenapaa? Padahal hamil, melahirkan, menjadi ibu adalah mimpi semua perempuan.

I closed all cry, stressful, desperate and all uring-uringan.

Dalam hati menggebu kata BANGKIT! PERAANG!

Setelah bertemu, bertukar cerita dengan teman seperjuangan, semangat itu muncul. Ternyata benar the power of teman senasib, teman berbagi membuat kita tidak sendirian. ¬†Kini kalimat “Yaah gue PCOS” sudah berganti menjadi “Oke gue PCOS. Terus?”

Menerima. Ternyata kata itu yang diperlukan untuk bangkit dan mulai menjadi PCOS Fighter. Bukan melupakan. Bukan berhenti menangis. Bukan pura-pura berusaha bahagia. Tuhan cuma mau kita menerima.

Food Combining

Ikhtiar dimulai dari merubah pola makan, serta berolahraga rutin. Bukan hanya saya, tapi saya dan suami benar-benar merubah pola hidup kami. Kami dipertemukan dengan Food Combining. Setiap hari disibukkan dengan macam-macam kombinasi buah dan sayur yang utama. Makanan bernutrisi tinggi seperti kacang almond, flexseed yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk kami konsumsi secara rutin karena harganya yang tergolong tinggi. Masalah harga kini tidak lagi kami pikirkan karena rejeki bisa dicari ya kaan? Yang terpenting adalah nutrisi nutrisi, gizi, gizi. Kami mulai merasa bahagia menjalani pola makan seperti ini. Bahkan hanya dengan makan nasi, tempe dan hujan sayur-mayur kami merasa sangat bahagia. Sedikit demi sedikit melupakan permasalahan kemarin. Efek yang dirasakan dari ikhtiar ini sangat berpengaruh, siklus saya semakin cantik sodara – sodara. Bahagia? Pasti!

Menerima akan membuat alam bawah sadar kita melupakan.

Menerima ternyata akan menemukan kebahagiaannya sendiri.

Gak bayar memang. Tapi juga gak mudah.

Olahraga

Selain pola makan yang kami ubah, kami pun memulai untuk rutin olahraga. Agak sulit memang menemukan waktu olahraga ditengah kehidupan pekerja urban seperti kami. Jadi kami menyempatkan waktu after office hour. Saya nyaman dengan yoga dan suami nyaman dengan lari disekitar kantornya dengan teman-teman. Setiap minggu kami sempatkan untuk olahraga bersama. Efek yang diberikan dari olahraga ternyata bisa menjadi ajang refreshing untuk kami. Ya kami jadi ketagihan olahraga dan ber-CFD. Selain refreshing, berkeringat bersama kami jadikan quality time dimana biasanya kita habiskan waktu dengan nonton bioskop atau jalan-jalan ke mall sekarang kami sangat menikmati quality time dengan olahraga bersama. Segeer!

Klinik Yasmin – RSCM

Mendapat info dari teman tentang program pengobatan gratis PCOS. Sebagai salah satu ikhtiar, kami mencoba untuk konsultasi ke Klinik Yasmin RSCM, yaa apalagi gratis makin semangat, hehee. Bulan September 2015 kami mendatangi RSCM Kencana Klinik Yasmine. Sebelum menjalani program disini saya diobservasi terlebih dahulu, dari siklus menstruasi hingga obat yang sedang saya konsumsi. Ya, program di klinik ini hanya dilakukan untuk wanita karena makin meningkatnya jumlah wanita yang memiliki PCOS. Untuk menjalani program disini harus terbebas dari segala macam obat dari dokter maupun obat herbal agar keberhasilannya terukur memang murni dari treatment di Klinik Yasmin. Ternyata madu penyubur dan habatusauda yang rutin saya konsumsi harus dihentikan dulu dan mereka meminta saya kembali 3 bulan lagi agar benar-benar berstatus terbebas dari segala obat. Mungkin memang harus bersabar lebih dahulu. Saya sudah di jadwalkan untuk kembali bulan Desember. Ya Desember kami menunggu penuh harap. Namun sebelum kami kembali kesana terselip cerita didalamnya. Cerita itu di Bulan Oktober. Bagi yang mau mencoba program disini bisa langsung datang ke Klinik Yasmin di RSCM Kencana.

Doa

Mungkin Tuhan merasa rindu permohonan kami, isak tangis kami.

Mungkin Tuhan ingin kami tidak terlalu sibuk mencari dunia.

Mungkin Tuhan ingin mendekap kami lebih dekat.

Penantian ini kami jadikan ajang berkaca bagi kami, ya saya dan suami. Membuat kami berintropeksi. Membuat kami makin mendekat pada Ilahi. Disini saya tidak akan memberi tips doa-doa khusus A-Z karena sesungguhnya doa terbaik itu yang berasal dari hati. Lakukan apa yang agama ajarkan, tingkatkan kualitasnya.

Terkadang saya berpikir saya lah yang paling merana, tapi ternyata jauh lebih banyak yang sudah melakukan effort segala rupa untuk mendapatkan buah hati. Doakan mereka yang juga sedang berjuang seperti kita karena bisa jadi Tuhan mengijabah doa kita karena ketulusan kita peduli dengan sesama.

Percayalah, Tuhan telah punya rencana untuk setiap hamba-Nya. Kita cuma disuruh percaya saja pada-Nya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Berani menceritakan roda terbawah kehidupan berarti kita telah menerimanya dan siap untuk bangkit.

A side of us that people¬†didn’t know…

Malu Mengeluh

Malu Mengeluh


Macet. Ngeluh

Cucian numpuk. Ngeluh

Tugas susah. Ngeluh

Angkutan Umum penuh. Ngeluh

Laper. Ngeluh

Kenyang. Bego

Sebutlah saya yang terkadang hobby nya ngeluh. Dapet kerjaan ribet dikit bete. Jalanan macet ngomel. Beli makan gak enak ngambek. Jadi ceritanya saya baru saja ditempatkan di suatu project yang secara lokasi sangat gak strategis dari tempat tinggal. Macetnya minta ampun jika harus bawa kendaraan pribadi. Akses krl yang harus transit dan tujuan favorit para pekerja, bisa dibayangkan bagaimana penuh sesaknya ya. Bus pun penuh sesak karena lokasi berada tepat di segitiga emas. Kata pertama yang tergambar dari semua itu adalah capek. Yang kedua apa? Ngeluh.

Drama kehebohan ini belum selesai sampai disitu. Dari ngerengek males kerja lah, minta ngekos deket kantor lah, ini lah, itu lah. Kami mencoba solusi pertama dengan menginap dirumah orang tua yang notabandnya strategis dengan segala jenis transportasi umum dari bus hingga omprengan. Yaaa omprengan! Tidak terpikir sama sekali dengan jenis transportasi umum ilegal itu ketika heboh drama ini itu yang saya ciptakan sendiri. Omprengan ini walau harganya lebih mahal tapi strategis dengan rumah orang tua dan berhenti di depan tempat kerja. Saya coba naik omprengan. Duduk nyaman, tidak kepanasan, hanya membutuhkan waktu tempuh 1jam sampai ke tempat kerja, dan ternyata menjadikan saya sampai paling pagi dibanding yang lain. Capek? Gak. Pake transit? Gak. Ngantuk? Bisa tidur. Amaze! Apa yang saya lakukan setelah mendapat kenikmatan ini? Pertama bersyukur. Kedua, malu. Ya saya terkejut malu.

Peristiwa yang membuat saya tertunduk dengan wajah memerah. Ya, malu sama karena terlalu mendramatisir keadaan tapi Tuhan justru melimpahkan banyak kemudahan. Pipi merah ini menjadikan¬†saya lebih banyak bersyukur, lebih lama bersujud. Dan yang terpenting pipi ini semakin merah ketika menyadari betapa sayangnya Tuhan tapi yang saya lakukan malah¬†mengeluh. Malu…

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

 

 

Mengutamakan Sunnah (?)

Mengutamakan Sunnah (?)


Yang wajibnya aja belom, masa udah ngerjain sunnah

Betul sekali, semua ibadah wajib harus lebih diutamakan dibanding yang sunnah. Sholat fardhu, puasa ramadhan, zakat fitrah, memakai jilbab merupakan beberapa contoh dari ibadah wajib. Arti kata wajib adalah jika kita meninggalkannya maka kita akan berdosa dan jika mengerjakannya mendapat pahala. Jelas ibadah sholat fardhu, puasa ramadhan, zakat fitrah, memakai jilbab harus dikerjakan ketimbang puasa senin kamis, sholat dhuha, puasa syawal, dll dimana dikategorikan sebagai sunnah.

Gonjang ganjing perkara mengerjakan wajib dulu baru sunnah, atau bolehkah mengerjakan sunnah tapi wajibnya belom, muncul ketika masuk masa syawalan. Buat laki-laki yang gak mempunyai hutang puasa ramadhan mungkin gak ngaruh, dimana bisa langsung mengerjakan puasa syawal selama 6 hari sebagai amalan ibadah sunnah. Naahhh kalau perempuan, tiap bulan punya tamu atau bisa juga bumil atau menyusui yang membuat mereka tidak bisa puasa full pada ramadhan dan wajib meng-qodho di bulan lainnya.

Ya ganti puasa dulu lah, baru syawalan

Puasa syawal merupakan puasa yang dilakukan pada bulan syawal (selain idul fitri 1 syawal) selama 6 hari. Puasa tidak harus berturut-turut langsung selama 6 hari. Boleh selang seling yang penting akumulasi sebanyak 6 hari. Kita diberi waktu sebulan, ya selama bulan syawal sebelum masuk bulan dzulkaidah. Ke-galau-an sering menggelayuti perempuan yang memiliki hutang harus meng-qodho puasa mereka harus melunasi dulu hutang puasanya atau boleh melakukan puasa syawal dahhulu sebelum hutangnya lunas.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari radliyallaahu ‚Äėanhu bahwa Rasulullahshallallaahu ‚Äėalaihi wa sallam bersabda :¬†‚ÄúBarangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun‚ÄĚ.

Jika melihat perkara wajib dan sunnah maka kita harus melunasi dulu hutang puasa ramadhan yang kita tinggalkan lalu mengerjakan puasa syawal. Nah dalam hal ini saya memiliki pandangan sendiri untuk menyikapi ke-galau-an ini. Saya tidak pernah memungkiri kalo hal wajib harus dikerjakan dahulu baru kemudian sunnah. Untuk perempuan-perempuan yang dirasa berat karena misal punya hutangg puasa sampai diatas 10 hari secara otomatis kuantitas puasa juga jadi banyak (puasa wajib + ngejar puasa syawal). Atau kondisi lain khawatir jika meng-qodho terlebih dahulu malah gak kebagian puasa syawal karena keburu datang tamu bulanan menurut saya tidak ada salahnya jika mengerjakan puasa syawal terlebih dahulu. “Loh mendahulukan sunnah donk kalo gitu?”¬†Maksudnya bukan mau mendahulukan sunnah, tetapi Allah menyediakan waktu untuk meng-qodho puasa di 11 bulan lainnya, sedangkan untuk puasa syawal hanya diberikan waktu 1 bulan. Asaaall dengan catatan hutang puasanya wajibnya harus lunas lhooo sebelum masuk Ramadhan selanjutnya.

‚Äú(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.‚ÄĚ (QS. Al Baqoroh : 184)

Untuk teman-teman yang memilih untuk melunasi wajibnya dahulu lalu melanjutkan dengan puasa syawal, itu sangat baik. Opsi lain, boleh kok puasa syawal dulu yang waktunya singkat kalau memang khawatir gak kebagian waktunya. Dua-duanya benar, jangan saling menyalahkan atau malah kisruh dan ribut merasa pemahaman yang dipilihnya benar dan pemahaman orang lain salah. Islam itu indah ikuti yang membuat hati kita tentram.

Demikian menurut pendapat saya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam mengutip ayat Al-Quran atau hadits. Kebenaran datangnya dari Allah semata dan kesalahan datangnya dari diri saya sendiri.